| Kami berjejer di bibir jalan raya menunggu Pak Boediono |
Jam 11.00 udah
pulang..asyik kan bisa santai di rumah.
Ya, biasanya setiap hari aku berangkat sebelum jam 7.00. aku
harus shalat dhuha berjamaah dulu di masjid depan sekolah, ikut kultum, baru
masuk kelas untuk pelajaran.
dan keluar kelas jam 15.00. biasanya sih jam 14.00 kalau sedang nggak ada ekskul
tambahan di sekolah.
Seperti biasa juga kalau mama harus jemput aku di sekolah.
Tapi begitu bubar dari ruang kelas, aku dan teman-teman nggak bisa langsung
pulang.
Kami diajak uztad (itu panggilan untuk pak guru) menyambut
wakil Presiden Indonesia. Namanya pak Boediono yang datang ke kampus Undip
untuk menghadiri wisuda atau apa gitu. Aku lupa.
Nah, kebetulan kan sekolahku dekat dengan kampus. Cuman
jalan kaki sebentar aja udah sampai di kampus. Kadang aku juga olah raga di
sekitar gedungnya. Sekolahku juga berada di jalan utama menuju kampus.
Aku dan teman-teman jalan ramai-ramai ke jalan utama. Berjejer
menunggu kedatangan Pak Wakil Presiden. Sebenarnya malas karena nunggunya lama
sekali. Apalagi hari itu panas dan aku lupa bawa topi.
Aku juga nggak memberi tahu mama kalau aku ikut menyambut orang
penting itu (kata uztad). Semoga saja mama tahu keberadaanku.
**
Tiba-tiba motor berwarna merah itu berhenti di dekatku.
Lho, itu mama yang di atas motor. Rupanya mama melewati
jalur jalan utama. Nggak seperti jalur biasa yang sering kami lewati ketika
mama mengantar dan menjemputku.
Katanya, mama emang sengaja lewat jalur ini karena ingin
melihat apakah ada anak-anak yang berdiri berjejer di pinggir jalan sambil
membawa bendera. Mama sangat hafal kebiasaan ini. Maklum, mama ku kan wartawan
dan dulu katanya juga pernah mengalami hal yang sama. Seperti pengalamanku kali
ini.
Makanya mama bisa menebak kalau aku dan teman-teman juga
diajak pak guru dan bu guru untuk ikut menyambut pak Boediono.
“Mama pulang dulu ambil topi ya, panas banget. Atau kamu
pengin pulang aja. Nggak usah nunggu,” tanya mama.
Aku menggeleng. Aku ingin bersama teman-teman. Akhirnya mama
pulang mengambilkan topi untukku.
“Nih topinya.” Dan mama memilih menemaniku dari jauh.
Sebenarnya aku udah nggak sabar berdiri lama seperti ini
menanti Pak Boediono lewat. Kayaknya udah satu jam menunggu belum ada
tanda-tanda juga iringan mobil akan nongol.
**
“Hayo, siap-siap. Itu rombongan sebentar lagi datang,” seru
Uztad sambil mengingatkan agar aku dan teman-teman berbaris dengan rapi. Kami
mudah diatur. Mungkin sengaja uztad mengajak anak kelas 4 hingga kelas 6 agar
lebih mudah mengaturnya, hehee.
Tak lama kemudian iring-iringan mobil terlihat dari jauh.
Ada suara sirine dari mobil polisi. Di belakangnya ada beberapa mobil-mobil
mewah. Dan salah satunya mobil sedan berwana hitam. Di badan depan mobil sedan mewah warna hitam itu bertengger
bendera merah putih dengan ukuran kecil di tengahnya. Plat nomornya juga berbeda dengan plat nomor yang biasa aku lihat. Platnya bertuliskan "INDONESIA 2".
| Iring-iringan mobil |
| Ini lho mobilnya Pak Boediono |
Aku dan teman-teman mulai beraksi. Berdiri rapi. Tangan
kanan melambai kea rah mobil-mobil itu yang melintas sekelebat.
Paling hanya satu menit. Cuman gitu aja dan aku harus menunggu lama !
| Melambai pada mobil..hiiks |
Nggak kebayang deh. Menunggu itu kan nggak enak. Aku jadi
inget waktu di rumah aja aku sering nggak sabar kalau diminta mama menunggu.
Bahkan mulutku sering ngomel kalau disuruh menunggu oleh mama.
“Gimana perasaan kalian melihat iring-iringan Pak Boediono tadi,”
tanya mama kepadaku dan teman-teman
Nnggak enak. Panas. Nunggunya lama banget tapi cuman lewat
sebentar,” kami menjawab serempak, hampir bersamaan.
Dan mama hanya tersenyum penuh arti. Hmm, sepertinya mama
sangat mengerti apa yang kami rasakan.
“Ya udah, ayo pulang,” ajak mama sambil merangkulku menuju
si merah.
Dan cuaca semakin terik…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar