Minggu, 18 November 2012

Wakil Presiden Datang…



Kami berjejer di bibir jalan raya menunggu Pak Boediono
Udah berhari-hari aku tes mid semester. Itu artinya aku pulang lebih cepat dari biasanya.
Jam 11.00  udah pulang..asyik kan bisa santai di rumah.

Ya, biasanya setiap hari aku berangkat sebelum jam 7.00. aku harus shalat dhuha berjamaah dulu di masjid depan sekolah, ikut kultum, baru masuk kelas untuk pelajaran.

dan keluar kelas jam 15.00. biasanya sih  jam 14.00 kalau sedang nggak ada ekskul tambahan di sekolah.
Seperti biasa juga kalau mama harus jemput aku di sekolah. Tapi begitu bubar dari ruang kelas, aku dan teman-teman nggak bisa langsung pulang.

Kami diajak uztad (itu panggilan untuk pak guru) menyambut wakil Presiden Indonesia. Namanya pak Boediono yang datang ke kampus Undip untuk menghadiri wisuda atau apa gitu. Aku lupa.

Nah, kebetulan kan sekolahku dekat dengan kampus. Cuman jalan kaki sebentar aja udah sampai di kampus. Kadang aku juga olah raga di sekitar gedungnya. Sekolahku juga berada di jalan utama menuju kampus.

Aku dan teman-teman jalan ramai-ramai ke jalan utama. Berjejer menunggu kedatangan Pak Wakil Presiden. Sebenarnya malas karena nunggunya lama sekali. Apalagi hari itu panas dan aku lupa bawa topi.
Aku juga nggak memberi tahu mama kalau aku ikut menyambut orang penting itu (kata uztad). Semoga saja mama tahu keberadaanku.

**
Tiba-tiba motor berwarna merah itu berhenti di dekatku.
Lho, itu mama yang di atas motor. Rupanya mama melewati jalur jalan utama. Nggak seperti jalur biasa yang sering kami lewati ketika mama mengantar dan menjemputku.

Katanya, mama emang sengaja lewat jalur ini karena ingin melihat apakah ada anak-anak yang berdiri berjejer di pinggir jalan sambil membawa bendera. Mama sangat hafal kebiasaan ini. Maklum, mama ku kan wartawan dan dulu katanya juga pernah mengalami hal yang sama. Seperti pengalamanku kali ini.

Makanya mama bisa menebak kalau aku dan teman-teman juga diajak pak guru dan bu guru untuk ikut menyambut pak Boediono.
“Mama pulang dulu ambil topi ya, panas banget. Atau kamu pengin pulang aja. Nggak usah nunggu,” tanya mama.

Aku menggeleng. Aku ingin bersama teman-teman. Akhirnya mama pulang mengambilkan topi untukku.
“Nih topinya.” Dan mama memilih menemaniku dari jauh. 

Sebenarnya aku udah nggak sabar berdiri lama seperti ini menanti Pak Boediono lewat. Kayaknya udah satu jam menunggu belum ada tanda-tanda juga iringan mobil akan nongol.

**
“Hayo, siap-siap. Itu rombongan sebentar lagi datang,” seru Uztad sambil mengingatkan agar aku dan teman-teman berbaris dengan rapi. Kami mudah diatur. Mungkin sengaja uztad mengajak anak kelas 4 hingga kelas 6 agar lebih mudah mengaturnya, hehee.

Tak lama kemudian iring-iringan mobil terlihat dari jauh. Ada suara sirine dari mobil polisi. Di belakangnya ada beberapa mobil-mobil mewah. Dan salah satunya mobil sedan berwana hitam. Di badan depan mobil sedan mewah warna hitam itu bertengger bendera merah putih dengan ukuran kecil di tengahnya. Plat nomornya juga berbeda dengan plat nomor yang biasa aku lihat. Platnya bertuliskan "INDONESIA 2". 
Iring-iringan mobil
Ini lho mobilnya Pak Boediono
Aku dan teman-teman mulai beraksi. Berdiri rapi. Tangan kanan melambai kea rah mobil-mobil itu yang melintas sekelebat. 

Paling hanya satu menit. Cuman gitu aja dan aku harus menunggu lama !
Melambai pada mobil..hiiks
 Nggak kebayang deh. Menunggu itu kan nggak enak. Aku jadi inget waktu di rumah aja aku sering nggak sabar kalau diminta mama menunggu. Bahkan mulutku sering ngomel kalau disuruh menunggu oleh mama.
“Gimana perasaan kalian melihat iring-iringan Pak Boediono tadi,” tanya mama kepadaku dan teman-teman
Nnggak enak. Panas. Nunggunya lama banget tapi cuman lewat sebentar,” kami menjawab serempak, hampir bersamaan.

Dan mama hanya tersenyum penuh arti. Hmm, sepertinya mama sangat mengerti apa yang kami rasakan.
“Ya udah, ayo pulang,” ajak mama sambil merangkulku menuju si merah.

Dan cuaca semakin terik…

Tidak ada komentar: