"Di mana sayang ?" tanya si ibu
sambil mengendarai motornya.
"Itu lho Bu.., tanah di atas truk itu
melarikan diri dari dalam truk. Kasihan
mereka melarikan diri sampai jatuh dan tercecer di jalanan beraspal ini. Bahkan
sampai di injak-injak oleh motor kita dan kendaraan yang lain yang lewat di
belakang truk itu.”
”Tanah-tanah itu mau di bawa kemana ya,
dan kenapa mereka sampai melarikan diri seperti itu. Mereka pasti tidak mau
diajak pergi tapi dipaksa. bener khan Bu..??!!" tanya si anak lagi dengan
nada tinggi.
"Mungkin saja," jawab ibu
singkat.
"Ibu tidak tahu pasti apakah tanah
itu akan melarikan diri karena akan disakiti. tapi disakiti oleh siapa
ya..."
Hmm..gumam si ibu sesaat.
Kemudian si ibu berpikir bahwa tanah yang
dilihat anaknya itu adalah tanah dari perbukitan yang ada di sisi timur tak
jauh dari rumah mereka.
Sepengetahuannya, tanah perbukitan itu
telah dikeruk dan di bawa dengan truk menuju ke arah barat. Entah kemana tujuan
pastinya. Ibu dan anak itu juga tidak tahu pasti.
Dan ini sudah hari ke-20 truk muatan tanah
itu melintas di jalan yang selalu di lewatinya bersama anaknya tiap pagi.
Itu artinya sudah 20 kali juga anaknya
mengatakan hal sama tentang tanah-tanah yang
jatuh dari dalam truk berwarna hijau yang dipenuhi tanah merah dari sisi
timur itu.
Tanah yang berada paling atas dan pinggir
truk selalu berjatuhan dan bertebaran menghiasi jalanan yang mereka lalui.
***
Tiba-tiba ibu takut dan enggan anaknya
terus saja berpikir bahwa
tanah-tanah itu 'melarikan diri' karena
dirampas dan dibawa paksa dari tempatnya berada di sisi timur dan di bawa ke
arah barat.
Kemudian ibu menjawab,"...Ahh mungkin
saja tanah itu bandel jadi disuruh keluar dari truk karena tanah itu tidak mau
mendengarkan nasehat dari tanah lain yang lebih tua yang ada di dalam truk itu.”
Jadi, sebaiknya turuti saja nasehat
mereka, pasti tanah itu tidak akan jatuh, tidak diinjak-injak kendaraan lain,
dan akan tetap bersama teman-temannya di dalam truk itu. Meskipun dia terpaksa
harus meninggalkan tempat tinggalnya."
"Ya, paling tidak tanah itu nggak
akan bersedih karena sendirian di jalanan seperti itu ya bu..." kata si
anak menyahut ucapan ibunya.
Mengingat tanah yang terlindas.....
untuk tembok-tembok yang berdiri dengan harga mahal
Tidak ada komentar:
Posting Komentar