Kamis, 06 Oktober 2011

Kenapa Tanahnya Melarikan Diri?


"Lihat itu Bu...tanahnya melarikan diri..!!!" seru si anak kepada ibunya sambil menunjuk truk berwarna hijau penuh muatan tanah merah yang melintas di depan motor mereka.

"Di mana sayang ?" tanya si ibu sambil mengendarai motornya.

"Itu lho Bu.., tanah di atas truk itu melarikan diri dari dalam truk.  Kasihan mereka melarikan diri sampai jatuh dan tercecer di jalanan beraspal ini. Bahkan sampai di injak-injak oleh motor kita dan kendaraan yang lain yang lewat di belakang truk itu.”

”Tanah-tanah itu mau di bawa kemana ya, dan kenapa mereka sampai melarikan diri seperti itu. Mereka pasti tidak mau diajak pergi tapi dipaksa. bener khan Bu..??!!" tanya si anak lagi dengan nada tinggi.

"Mungkin saja," jawab ibu singkat.

"Ibu tidak tahu pasti apakah tanah itu akan melarikan diri karena akan disakiti. tapi disakiti oleh siapa ya..."

Hmm..gumam si ibu sesaat.

Kemudian si ibu berpikir bahwa tanah yang dilihat anaknya itu adalah tanah dari perbukitan yang ada di sisi timur tak jauh dari rumah mereka.

Sepengetahuannya, tanah perbukitan itu telah dikeruk dan di bawa dengan truk menuju ke arah barat. Entah kemana tujuan pastinya. Ibu dan anak itu juga tidak tahu pasti.

Dan ini sudah hari ke-20 truk muatan tanah itu melintas di jalan yang selalu di lewatinya bersama anaknya tiap pagi.

Itu artinya sudah 20 kali juga anaknya mengatakan hal sama tentang tanah-tanah yang  jatuh dari dalam truk berwarna hijau yang dipenuhi tanah merah dari sisi timur itu.

Tanah yang berada paling atas dan pinggir truk selalu berjatuhan dan bertebaran menghiasi jalanan yang mereka lalui.

***

Tiba-tiba ibu takut dan enggan anaknya terus saja berpikir  bahwa tanah-tanah  itu 'melarikan diri' karena dirampas dan dibawa paksa dari tempatnya berada di sisi timur dan di bawa ke arah barat.

Kemudian ibu menjawab,"...Ahh mungkin saja tanah itu bandel jadi disuruh keluar dari truk karena tanah itu tidak mau mendengarkan nasehat dari tanah lain yang lebih tua yang ada di dalam truk itu.”

Jadi, sebaiknya turuti saja nasehat mereka, pasti tanah itu tidak akan jatuh, tidak diinjak-injak kendaraan lain, dan akan tetap bersama teman-temannya di dalam truk itu. Meskipun dia terpaksa harus meninggalkan tempat tinggalnya."

"Ya, paling tidak tanah itu nggak akan bersedih karena sendirian di jalanan seperti itu ya bu..." kata si anak  menyahut ucapan ibunya.


Mengingat tanah yang terlindas.....

untuk tembok-tembok yang berdiri dengan harga mahal 






Tidak ada komentar: