”Ma, disuruh potong rambut,” kata Don sepulang
sekolah. Kebetulan siang itu Mama nggak bisa jemput karena ada urusan di luar.
”Hmm, sapa yang suruh?” tanya mama.
"Bu guru,” jawab Don singkat.
”Nah, sekarang baru tahu rasa kan. Jadi malu
sendiri. Sampai bu guru aja turun tangan buat ngurusi rambutmu yang kayak hutan
Borneo gitu.”
Mama melihat tampang Don yang memelas.
Terdengar gumaman tak jelas dari mulutnya. Meski udah dapat peringatan dari
guru, sepertinya Don masih nggak rela kehilangan rambutnya untuk sementara. rasa
sayang berlebihan dengan rambut panjang tetap membuat Don enggan mencukur
rambutnya.
”Duuh, kamu lebay amat ya. Udahlah nggak
usah terlalu dipikirin. Meski dipotong kan nanti bakalan tumbuh lagi. Hilangnya
cuman sementara..”
Hingga kemudian mama memberi alternatif
untuk pergi ke salon. Dan tidak memakai jasa tukang cukur Madura seperti
biasanya yang selalu bikin Don ngedumel karena tidak puas dengan hasil cukuran
Cak Madura itu. Juga melihat tampang si cak yang super duper serius.
Tampang yang aneh untuk ukuran orang yang
biasa ”mengeksekusi” anak kecil..hihiiii
Jadi heran juga, kenapa si Cak itu nggak
bisa kasih senyum manis dikiiiit aja, biar anak-anak yang datang ke kursi
eksekusinya bisa lebih nyaman dan nggak merasa ”dipaksa”.
Selalu memandangi rambutnya di cermin
dengan rasa tidak puas. Itu yang selalu dilakukan Don sepulang dari pangkas
rambut.
****
Dua hari kemudian, mama membawa Don ke
salon. Mama sering datang ke salon ini. ” Ini salon langganan mama. Paling
tidak basa-basinya lebih enak. Kamu pengin model seperti apa tinggal bilang
aja,” jelas mama.
Salon pria dan wanita. Meski campur
begitu, nggak banyak laki-laki yang datang. Kata mama hanya sesekali ada orang
laki-laki yang datang ke salon ini.
Kebetulan, sore itu salon tidak begitu
ramai. Dan beberapa kapster terlihat sedang santai. Salah satunya mendatangi
mama.
”Motongin rambut anak ni mbak,”
Don langsung diminta duduk di kursi paling
ujung. Siap dieksekusi.
”Modelnya gimana? Cepak atau dirapikan
aja?,” tanya si mbak lembut.
Don hanya melirik mama, memberi sinyal.
Walaah, itu artinya mama yang harus menjelaskan ke kapsternya model rambut yang
diinginkan Don. Seperti biasa, maunya rambut tetap masih terlihat gondrong, dan
menyisakan godek biar tetap panjang.
Nah lho, kalau gitu namanya nggak potong
rambut dong..hihiii
Kapter perempuan langsung ”ngerjain”
rambut Don setelah mama memberi instruksi. Tangannya cekatan. Sesekali
pertanyaan basa-basi meluncur dari bibirnya. Don dibuat senyaman mungkin. Dan
itu nggak pernah dilakukan si cak tukang pangkas Madura.
Bahkan setelah potong rambut langsung mendapat
perawatan creambath
Waak, dasar anak ndeso. Baru sekali merasakan dicreambath dan rupanya dia
ketagihan
Enak kepala dipijit-pijit sambil
liyer-liyer
Eh ya, sewaktu mbak kapster nan lembut itu
memangkas rambut Don. Ada pertanyaan yang bikin mama ter eheem..eheem. Rambut
gondongnya Don sempat menjadi pertanyaan. Yang serius.
”Biasanya Don pakai shampo apa ni Bu ?” tanya
mbak kapter
”Ya, shampo anak-anak yang kayak iklan di
tv itu lha mbak yang katanya bisa bikin rambut halus.”
”Wah, jangan pakai shampo itu lagi bu
karena rambut anaknya udah lebat banget dan teksturnya tebal kayak rambutnya
orang dewasa. Saya sarankan pakai shampo yang mengandung conditioner ekstra banyak.
Seperti shampo r****e.”
“Whaat??!!
Itu
kan shampoo cewek,” Batin mama sambil tertawa ngikik
Beda banget dengan keinginan Don yang
selalu memilih shampo cowok kalau diajak ke minimarket.
Biasanya don cocok menggunakan shampo
khusus laki-laki Rambutnya jadi bagus. Tapi shampo itu udah nggak ada lagi
karena ganti kemasan baru. Nah, Sialnya begitu kubeli shampo kemasan baru itu
justru bikin kulit kepala Don berketombe dengan hebatnya
Huuuuhh..memang susah urusin rambut yang
satu ini. Sedikit ribet
Tapi sebenarnya mama senang juga dengan rambut gondrongnya Don.
Kereen. Dan rambutnya kelihatan sehat.
Makanya jangan heran kalau mama sering
memanggil Don dengan sebutan hutan Borneo.
Ya, hutan di Kalimantan yang terkenal
lebat itu jadi salah satu kekayaan Indonesia yang tak ternilai.
Tapi eh tapi, sekarang ini hutan Borneo kondisinya
menyedihkan lho. Nggak kayak yang disebut mama Don. Kenapa?
Karena hutan Borneo banyak dipalak
pengusaha kelapa sawit dan bubur kertas. Hutan Borneo makin menipis dan udah
mulai pitak sana pitak sini. Jelek banget dech.
Seperti ancaman mama kepada Don kalau
enggan potong rambut.
”Nanti mama akan jadi jahat kayak
pengusaha kelapa sawit dan bubur kertas yang suka nebangin pohon di hutan.
Kalau mulai susah diurus, mama potong sembarangan aja biar jadi pitak. Biar malu
kalau dilihat teman.”
Hiii..lucu juga ya, kalau hutan Borneo itu
harus dijaga biar gondrong, tapi kalau rambut Don justru sebaliknya. Harus
dijaga biar cepak. Nggak boleh kayak hutan Borneo.
Tapi keduanya punya kesamaan lho.
Sama-sama nggak boleh PITAK!!!
***
”Jadi, mau potong rambut nggak nih ???!!!”
tanya mama.
Oh noo....
Look at his hair!!!
Heyy..kok malah manyun sich. Ayo potong rambut!!...Lho ma, ini kan barusan dipotong..*kaboor*

3 komentar:
Hutan borneo sekarang kayak kepala propppppppesor don. Botak dan mengkilap. Hehe...hehe......
Hutan borneo dah botak kayak kepala propesor, don.....
iiiiihhh...jadi penasaran pengin liat si propesor botak itu.
Posting Komentar