Jumat, 07 Oktober 2011

Pensil untuk Hilmy


Siang itu seperti biasa, waktu menunjukkan pukul 11 siang. Dan itu artinya mama harus jemput Don di sekolah.
Ya, pukul 11 siang saatnya anak kelas satu termasuk Don keluar kelas.

Sesampai mama di sekolah, ternyata Don sudah menunggu mama di tempat biasa. Tempat bermain yang ada di samping sekolah.
Mama terlambat 15 menit. tapi nggak apa-apa, jadi Don punya waktu untuk bermain dengan teman-teman sebelum mama datang menjemput. Oh ya, Don tetap merasa nyaman menunggu dan bermain karena penjaga sekolah selalu setia menunggu semua murid. Sampai benar-benar ”bersih”. Maksudnya sampai anak-anak pulang semua, pak satpam penjaga sekolah baru bisa pulang.

Siang itu sekolah sudah tidak begitu ramai ketika mama datang. Tinggal beberapa anak saja yang masih menunggu jemputan.
Melihat motor mama, pak satpam langsung memanggil Don yang tengah asyik bermain ayunan.

”Don..mama udah dateng tuh,” panggil pak satpam.

Don langsung menoleh parkir motor yang ada di depan masjid dekat sekolah. Begitu melihat mama, Don langsung beringsut menuju bu Eny dan memberi salam. Ia adalah wali kelas satu. Seperti kebiasaan yang ada di sekolah Don, setiap datang atau pulang sekolah membari salam kepada bu guru.

Sambil membonceng motor di belakang mama, Don mulai bercerita. Ini menjadi kebiasaan Don setiap berada di atas jok motor. Perjalanan dari sekolah ke rumah sebenarnya hanya ditempuh dalam waktu lima menit.

Ya, lima menit yang selalu penuh dengan cerita. Lima menit yang berarti.

”Ma, aku tadi minjemin pensilku ke Hilmy karena dia ga bawa pensil,” kata Don.

”Iya, ” jawab mama singkat.

”Nggak apa-apa aku pinjemin biar dia bisa nulis di sekolah. Coba bayangkan kalau dia nggak bawa pensil. Dia nggak bisa nulis dan ngikutin pelajaran di sekolah. Kan kasihan.”

”Baguslah, kamu sendiri masih punya pensil kan,”

”Masih. Terus pensil yang aku pinjamkan itu juga aku kasih aja di Hilmy.”

”Pensil yang mana?” tanya mama.
”Pensil yang berwana hitam itu lho....”

Panjang atau yang pendek ?”

”Ya..yang sedenganlah. nggak panjang dan nggak pendek. Nggak apa-apa ya ..kan biar Hilmy punya pansil. Lagian pensilku masih banyak. Masih ada 15 buah lho Ma.”

”Masak sih, berarti pansilmu masih banyak dong.”

”Iyalah. Kemarin pensilku ada 18.terus aku kasihin ke teman-temanku. Aku kasih Fadil satu, terus aku kasih Nino satu. Faden juga dan aku kasih Hilmy satu
biar mereka bisa nulis semua.”

”Oke dech. Mama suka itu.”

Don dan Mama sampai di rumah.

-Indahnya berbagi.......

Tidak ada komentar: