![]() |
| pangkas rambut madura |
Rambut Don memang lebat dan tekstur tebal
seperti rambut orang dewasa. Mungkin itu juga kebanggan tersendiri. Apalagi
kalau lihat rambut teman-teman sekolahnya, tidak ada yang rambutnya seperti
milik Don.
Ya..sejak lahir, Don memang dikaruniai
rambut yang lebat serta tumbuh dengan
cepat. Dan ketika rambutnya sudah mulai menutupi telinga atau jidat, mama pun
harus rela berbaik hati dan membujuknya agar segera potong rambut. Jadi rambut gondrongnya itu
tidak akan menambah ukuran kepalanya yang besar.
**
Sore itu mama berhasil membujuk Don pergi
ke tukang cukur madura yang ada di ujung jalan. Berhasil, setelah beberapa kali diiming-imingi sesuatu
yang menjadi keinginannya saat itu. Cukup disogok dengan oreo milkshake dan
janji om Dhita akan datang setelah sekian lama tidak muncul. Entah kenapa,
mungkin ada rasa rindu sehingga Don sangat bersemangat sekali ketika nama Dhita
disebut. Sudah hampir 2 bulan terakhir ini, Don tak melihatnya. Apalagi akhir-akhir
ini hampir setiap malam Don bercerita tentang Dhita.
”Sebenarnya aku mau ke tukang cukur kalo
diantar om Dhita,” rajuk Don.
”Iya..kan datengnya malem. Keburu tukang cukurnya tutup. Jadi cukur dari
sekarang, nanti om datang sudah lihat
rambut baru Don yang keren..gimana,? bujuk mama.
”Ya udah dech kalau begitu...” kata Don
pasrah.
Lantas mama-pun mengeluarkan sepeda motor bututnya
dari garasi. Don meloncat di jok motor dan membonceng dibelakang.
Dan meluncurlah mereka menuju tukang cukur
madura.
**
Sudah tak ingat lagi kapan terakhir pergi
ke tukang cukur madura untuk memangkas rambut lebat Don itu. Tapi seingat mama,
terakhir kesana itu diantar om Dhita.
Karena setelah itu, rambut Don selalu
dipermak mama sendiri. Meski hanya dengan sisir besar dengan garis sisir yang
jarang-jarang dan gunting tumpul milik embah, Don cukup puas dengan guntingan
mama yang acak adul.
Mama bilang, ” Ini potongan rambut cepak tanpa memotong rambut godek..”
”Masih panjang kan godeknya..??,” itu yang selalu dikomentari Don tentang rambutnya,
ketika selesai dipotong.
**
Dan sore itu, Don dan mama harus sabar
menunggu antrian. Tidak cukup ramai, hanya seorang anak dan bapak nyayang
bergantian dicukur rambutnya.
Sekitar lima menit kemudian, si-anak
selesai dicukur, dan langsung keluar dari ruangan menghampiri bapaknya yang
tengah duduk menunggu diluar. Sementara Don dan mama lebih memilih menunggu
didalam ruangan.
Don punya kebiasaan yang jarang dilakukan
anak seumurnya. Suka memperhatikan orang dan selalu berkomentar tentang orang
yang dilihatnya. Pun ketika Don melihat bapak itu masuk dan menuju kursi eksekusi si
tukang cukur.
Si bapak itu bertubuh tinggi besar.
Rambut bisa dibilang cepak. Mungkin ia
hanya ingin merapikan rambutnya saja. Dan satu lagi yang kemudian menjadi
perhatian Don. Bapak itu mempunyai jenggot yang mungkin baru tumbuh 0,1
centimeter. Sebenarnya tidak tahu juga seberapa panjangnya. Tapi yang jelas
baru numbuh brutus-butus rambut di
janggutnya.
Setelah rapi rambut si bapak dipangkas,
kini giliran si tukang cukur itu merapikan jenggot nya yang mulai tumbuh dengan
menggunakan pisau cukur.
Seketika Don meringis...
”Ma, kalau aku sudah gede, aku ga mau
punya jenggot. ngeri ah....,” kata Don.
”Memangnya kenapa ?” tanya mama penasaran.
”Tu lihat, jenggot bapak itu dicukur.
Kayak gitu kan sakit. aku ga berani.”
”Hmm...masak kalau nanti udah besar juga
masih ga berani ? cecar mama.
”Iya, pokoknya aku ga mau punya jenggot !
jelas Don dengan sedikit berteriak.
”Lho kok gitu. Kalau sudah besar nanti kan
jenggot Don numbuh sendiri. Coba kamu lihat om Dhita, dia punya jenggot,” kata
mama.
” Kamu lihat kan jenggotnya ga papa dan ga
nyakitin om. Malah dibiarin gitu.
”Terus kenapa jenggot om Dhita ga dicukur,
takut sakit kali ya,” tanya Don penasaran.
”Bukan begitu. Orang laki-laki kalau sudah
dewasa biasanya tumbuh jenggot di janggutnya. Boleh dipelihara atau enggak, maksudnya
kalau suka punya jenggot seperti om Dhita, ga dicukur kecuali kalau sudah panjang dan
menganggu. Atau kalau emang ga suka pake jenggot ya dicukur aja ke tukang cukur
kayak bapak itu,” jelas mama.
”Jadi ga papa ya punya jenggot,” tanya Don
sekali lagi.
”Iya, enggak apa-apa. Malah ada orang yang
merasa keren lho kalau punya jenggot. Jadi lebih percaya diri,” tambah mama.
”Hahahaa..iya..iya..” Don pun tertawa.
”Ya udah sana, sekarang giliranmu potong
rambut tu,” mama menunjuk ”kursi eksekusi”.
”Iya..tapi bilang tukang cukurnya ya kalau
godeknya jangan dipotong. Biar tetep panjang kayak gini,” kata Don sambil
memilin rambut godeknya.
Hmmm.....
Don sedang dieksekusi di salon..hihiii


Tidak ada komentar:
Posting Komentar