Rabu, 05 Oktober 2011

Punya Jenggot? Nggak aah...

pangkas rambut madura
Satu hal yang paling dan sangat tidak disukai Don adalah potong rambut. Don lebih suka punya rambut yang gondrong. Rambut yang bisa disisir kebelakang. Bisa diberi air atau gel, jadi bisa ditarik keatas. Rambut godek yang panjang hingga dibawah telingga dan bisa dipilin dengan kedua tangannya. Mungkin Don terobsesi dengan manga atau kartun jepang yang sering di tontonnya ya..hiiii.

Rambut Don memang lebat dan tekstur tebal seperti rambut orang dewasa. Mungkin itu juga kebanggan tersendiri. Apalagi kalau lihat rambut teman-teman sekolahnya, tidak ada yang rambutnya seperti milik Don.

Ya..sejak lahir, Don memang dikaruniai rambut yang lebat serta  tumbuh dengan cepat. Dan ketika rambutnya sudah mulai menutupi telinga atau jidat, mama pun harus rela berbaik hati dan membujuknya agar segera  potong rambut. Jadi rambut gondrongnya itu tidak akan menambah ukuran kepalanya yang besar.

**
Sore itu mama berhasil membujuk Don pergi ke tukang cukur madura yang ada di ujung jalan. Berhasil,  setelah beberapa kali diiming-imingi sesuatu yang menjadi keinginannya saat itu. Cukup disogok dengan oreo milkshake dan janji om Dhita akan datang setelah sekian lama tidak muncul. Entah kenapa, mungkin ada rasa rindu sehingga Don sangat bersemangat sekali ketika nama Dhita disebut. Sudah hampir 2 bulan terakhir ini, Don tak melihatnya. Apalagi akhir-akhir ini hampir setiap malam Don bercerita tentang Dhita.

”Sebenarnya aku mau ke tukang cukur kalo diantar om Dhita,” rajuk Don.

”Iya..kan datengnya malem.  Keburu tukang cukurnya tutup. Jadi cukur dari sekarang, nanti  om datang sudah lihat rambut baru Don yang keren..gimana,? bujuk mama.

”Ya udah dech kalau begitu...” kata Don pasrah.

Lantas mama-pun mengeluarkan sepeda motor bututnya dari garasi. Don meloncat di jok motor dan membonceng dibelakang.
Dan meluncurlah mereka menuju tukang cukur madura.

**
Sudah tak ingat lagi kapan terakhir pergi ke tukang cukur madura untuk memangkas rambut lebat Don itu. Tapi seingat mama, terakhir kesana itu diantar om Dhita.

Karena setelah itu, rambut Don selalu dipermak mama sendiri. Meski hanya dengan sisir besar dengan garis sisir yang jarang-jarang dan gunting tumpul milik embah, Don cukup puas dengan guntingan mama yang acak adul.

Mama bilang, ” Ini potongan rambut  cepak tanpa memotong rambut godek..”

”Masih panjang kan godeknya..??,” itu yang selalu dikomentari Don tentang rambutnya, ketika selesai dipotong.

**
Dan sore itu, Don dan mama harus sabar menunggu antrian. Tidak cukup ramai, hanya seorang anak dan bapak nyayang bergantian dicukur rambutnya.
Sekitar lima menit kemudian, si-anak selesai dicukur, dan langsung keluar dari ruangan menghampiri bapaknya yang tengah duduk menunggu diluar. Sementara Don dan mama lebih memilih menunggu didalam ruangan.

Don punya kebiasaan yang jarang dilakukan anak seumurnya. Suka memperhatikan orang dan selalu berkomentar tentang orang yang dilihatnya. Pun ketika Don melihat  bapak itu masuk dan menuju kursi eksekusi si tukang cukur.

Si bapak itu bertubuh tinggi besar. Rambut  bisa dibilang cepak. Mungkin ia hanya ingin merapikan rambutnya saja. Dan satu lagi yang kemudian menjadi perhatian Don. Bapak itu mempunyai jenggot yang mungkin baru tumbuh 0,1 centimeter. Sebenarnya tidak tahu juga seberapa panjangnya. Tapi yang jelas baru numbuh brutus-butus rambut di janggutnya.

Setelah rapi rambut si bapak dipangkas, kini giliran si tukang cukur itu merapikan jenggot nya yang mulai tumbuh dengan menggunakan pisau cukur.

Seketika Don meringis...

”Ma, kalau aku sudah gede, aku ga mau punya jenggot. ngeri ah....,” kata Don.

”Memangnya kenapa ?” tanya mama penasaran.

”Tu lihat, jenggot bapak itu dicukur. Kayak  gitu kan sakit. aku ga berani.”

”Hmm...masak kalau nanti udah besar juga masih ga berani ? cecar mama.

”Iya, pokoknya aku ga mau punya jenggot ! jelas Don dengan sedikit berteriak.

”Lho kok gitu. Kalau sudah besar nanti kan jenggot Don numbuh sendiri. Coba kamu lihat om Dhita, dia punya jenggot,” kata mama.

” Kamu lihat kan jenggotnya ga papa dan ga nyakitin om. Malah dibiarin gitu.
”Terus kenapa jenggot om Dhita ga dicukur, takut sakit kali ya,” tanya Don penasaran.

”Bukan begitu. Orang laki-laki kalau sudah dewasa biasanya tumbuh jenggot di janggutnya. Boleh dipelihara atau enggak, maksudnya kalau suka punya jenggot seperti om Dhita,  ga dicukur kecuali kalau sudah panjang dan menganggu. Atau kalau emang ga suka pake jenggot ya dicukur aja ke tukang cukur kayak bapak itu,” jelas mama.

”Jadi ga papa ya punya jenggot,” tanya Don sekali lagi.

”Iya, enggak apa-apa. Malah ada orang yang merasa keren lho kalau punya jenggot. Jadi lebih percaya diri,” tambah mama.

”Hahahaa..iya..iya..”  Don pun tertawa.

”Ya udah sana, sekarang giliranmu potong rambut tu,” mama menunjuk ”kursi eksekusi”.

”Iya..tapi bilang tukang cukurnya ya kalau godeknya jangan dipotong. Biar tetep panjang kayak gini,” kata Don sambil memilin rambut godeknya.

Hmmm.....



Don sedang dieksekusi di salon..hihiii

Tidak ada komentar: