Selasa, 11 Oktober 2011

Si Hutan Borneo


”Ma, disuruh potong rambut,” kata Don sepulang sekolah. Kebetulan siang itu Mama nggak bisa jemput karena ada urusan di luar.

”Hmm, sapa yang suruh?” tanya mama.

"Bu guru,” jawab Don singkat.

”Nah, sekarang baru tahu rasa kan. Jadi malu sendiri. Sampai bu guru aja turun tangan buat ngurusi rambutmu yang kayak hutan Borneo gitu.”

Mama melihat tampang Don yang memelas. Terdengar gumaman tak jelas dari mulutnya. Meski udah dapat peringatan dari guru, sepertinya Don masih nggak rela kehilangan rambutnya untuk sementara. rasa sayang berlebihan dengan rambut panjang tetap membuat Don enggan mencukur rambutnya.

”Duuh, kamu lebay amat ya. Udahlah nggak usah terlalu dipikirin. Meski dipotong kan nanti bakalan tumbuh lagi. Hilangnya cuman sementara..”

Hingga kemudian mama memberi alternatif untuk pergi ke salon. Dan tidak memakai jasa tukang cukur Madura seperti biasanya yang selalu bikin Don ngedumel karena tidak puas dengan hasil cukuran Cak Madura itu. Juga melihat tampang si cak yang super duper serius.
Tampang yang aneh untuk ukuran orang yang biasa ”mengeksekusi” anak kecil..hihiiii
Jadi heran juga, kenapa si Cak itu nggak bisa kasih senyum manis dikiiiit aja, biar anak-anak yang datang ke kursi eksekusinya bisa lebih nyaman dan nggak merasa ”dipaksa”.

Selalu memandangi rambutnya di cermin dengan rasa tidak puas. Itu yang selalu dilakukan Don sepulang dari pangkas rambut.

****

Dua hari kemudian, mama membawa Don ke salon. Mama sering datang ke salon ini. ” Ini salon langganan mama. Paling tidak basa-basinya lebih enak. Kamu pengin model seperti apa tinggal bilang aja,” jelas mama.

Salon pria dan wanita. Meski campur begitu, nggak banyak laki-laki yang datang. Kata mama hanya sesekali ada orang laki-laki yang datang ke salon ini.

Kebetulan, sore itu salon tidak begitu ramai. Dan beberapa kapster terlihat sedang santai. Salah satunya mendatangi mama.

”Motongin rambut anak ni mbak,”

Don langsung diminta duduk di kursi paling ujung. Siap dieksekusi.

”Modelnya gimana? Cepak atau dirapikan aja?,” tanya si mbak lembut.

Don hanya melirik mama, memberi sinyal. Walaah, itu artinya mama yang harus menjelaskan ke kapsternya model rambut yang diinginkan Don. Seperti biasa, maunya rambut tetap masih terlihat gondrong, dan menyisakan godek biar tetap panjang.
Nah lho, kalau gitu namanya nggak potong rambut dong..hihiii

Kapter perempuan langsung ”ngerjain” rambut Don setelah mama memberi instruksi. Tangannya cekatan. Sesekali pertanyaan basa-basi meluncur dari bibirnya. Don dibuat senyaman mungkin. Dan itu nggak pernah dilakukan si cak tukang pangkas Madura.

Bahkan setelah potong rambut langsung mendapat perawatan creambath
Waak, dasar anak ndeso. Baru sekali merasakan dicreambath dan rupanya dia ketagihan
Enak kepala dipijit-pijit sambil liyer-liyer

Eh ya, sewaktu mbak kapster nan lembut itu memangkas rambut Don. Ada pertanyaan yang bikin mama ter eheem..eheem. Rambut gondongnya Don sempat menjadi pertanyaan. Yang serius.

”Biasanya Don pakai shampo apa ni Bu ?” tanya mbak kapter

”Ya, shampo anak-anak yang kayak iklan di tv itu lha mbak yang katanya bisa bikin rambut halus.”

”Wah, jangan pakai shampo itu lagi bu karena rambut anaknya udah lebat banget dan teksturnya tebal kayak rambutnya orang dewasa. Saya sarankan pakai shampo yang mengandung conditioner ekstra banyak. Seperti shampo r****e.”

“Whaat??!! Itu kan shampoo cewek,” Batin mama sambil tertawa ngikik
Beda banget dengan keinginan Don yang selalu memilih shampo cowok kalau diajak ke minimarket.

Biasanya don cocok menggunakan shampo khusus laki-laki Rambutnya jadi bagus. Tapi shampo itu udah nggak ada lagi karena ganti kemasan baru. Nah, Sialnya begitu kubeli shampo kemasan baru itu justru bikin kulit kepala Don berketombe dengan hebatnya

Huuuuhh..memang susah urusin rambut yang satu ini. Sedikit ribet
Tapi sebenarnya mama  senang juga dengan rambut gondrongnya Don. Kereen. Dan rambutnya kelihatan sehat.

Makanya jangan heran kalau mama sering memanggil Don dengan sebutan hutan Borneo.
Ya, hutan di Kalimantan yang terkenal lebat itu jadi salah satu kekayaan Indonesia yang tak ternilai.

Tapi eh tapi,  sekarang ini hutan Borneo kondisinya menyedihkan lho. Nggak kayak yang disebut mama Don. Kenapa?
Karena hutan Borneo banyak dipalak pengusaha kelapa sawit dan bubur kertas. Hutan Borneo makin menipis dan udah mulai pitak sana pitak sini. Jelek banget dech.

Seperti ancaman mama kepada Don kalau enggan potong rambut.

”Nanti mama akan jadi jahat kayak pengusaha kelapa sawit dan bubur kertas yang suka nebangin pohon di hutan. Kalau mulai susah diurus, mama potong sembarangan aja biar jadi pitak. Biar malu kalau dilihat teman.”

Hiii..lucu juga ya, kalau hutan Borneo itu harus dijaga biar gondrong, tapi kalau rambut Don justru sebaliknya. Harus dijaga biar cepak. Nggak boleh kayak hutan Borneo.

Tapi keduanya punya kesamaan lho. Sama-sama nggak boleh PITAK!!!

***

”Jadi, mau potong rambut nggak nih ???!!!” tanya mama.


Oh noo....






Look at his hair!!!



Heyy..kok malah manyun sich. Ayo potong rambut!!...Lho ma, ini kan barusan dipotong..*kaboor*

3 komentar:

Unknown mengatakan...

Hutan borneo sekarang kayak kepala propppppppesor don. Botak dan mengkilap. Hehe...hehe......

Unknown mengatakan...

Hutan borneo dah botak kayak kepala propesor, don.....

noni arnee mengatakan...

iiiiihhh...jadi penasaran pengin liat si propesor botak itu.