Senin, 23 Maret 2015

Tukar Nenek dengan Tic Tac

Ketika aku bilang kalau tic tac itu permen yang paling terkenal di dunia, kening mama berkerut dan bibirnya berucap, "hmm, tahu dari mana? mama nggak percaya."

Obrolan itu muncul ketika mama meminta permen dalam kotak kecil berwarna hijau. mama nggak memperhatikan merek permen itu.

Mama tidak terlalu suka makan permen, tapi lagi butuh "kesegaran mulut" katanya. Jadi, mengambil satu butir tic tac yang dianggapnya bubble gum

"Loh, mama kirain permen karet, ternyata ini permen yang "keras".

Untuk menjawab rasa penasaran mama, aku kemudian bercerita tentang film home alone yang udah kutonton di televisi hingga berkali-kali

Jadi, ada salah satu adegan di film itu ketika kevin makan tic tac.
nggak hanya itu, ada juga di salah satu adegan ketika penjahat sedang lapar dan mengatakan," Apa aku bisa menukar nenekku dengan tic tac ?"

Kalo gitu, Apa aku juga bisa menukar koruptor dengan tic tac ??!!
#Melongo

Minggu, 18 November 2012

Jujur itu Bisa Memberantas Korupsi

kantong mama
Aku perhatikan, mamaku mempunyai banyak kebiasaan buruk. Salah satunya yang paling menyebalkan adalah menaruh barang atau sesuatu seenaknya sendiri. Maksudnya, tinggal taruh aja tanpa memperhatikan barang itu penting atau tidak. 


Misalnya aja kunci kendaraan. Akibatnya, sering lupa dan bingung mencari kemana kunci itu berada. Butuh waktu lama untuk mencarinya. Kadang aku jadi ikut menjadi sukarelawan dan sebal sendiri ketika membantunya.

Nggak cuman itu, ada satu lagi yang pada awalnya aku anggap sebagai kecerobohan mama. Ya, kebiasaan buruk tadi itu.
Ini nih, mamaku paling suka menaruh uang sembarangan. Mama mengaku melakukan itu karena nggak punya dompet. Mungkin nggak sih, orangtua nggak punya dompet?  Tapi yang paling sering kulihat, mamaku suka menaruh uang dalam selipan buku catatannya, memasukkan begitu saja uangnya di kantong kecil yang ada di tasnya. Mamaku juga punya kantong khusus yang selalu dibawa ketika bepergian. Atau uangnya di taruh di saku celana jean-nya.

Wakil Presiden Datang…



Kami berjejer di bibir jalan raya menunggu Pak Boediono
Udah berhari-hari aku tes mid semester. Itu artinya aku pulang lebih cepat dari biasanya.
Jam 11.00  udah pulang..asyik kan bisa santai di rumah.

Ya, biasanya setiap hari aku berangkat sebelum jam 7.00. aku harus shalat dhuha berjamaah dulu di masjid depan sekolah, ikut kultum, baru masuk kelas untuk pelajaran.

dan keluar kelas jam 15.00. biasanya sih  jam 14.00 kalau sedang nggak ada ekskul tambahan di sekolah.
Seperti biasa juga kalau mama harus jemput aku di sekolah. Tapi begitu bubar dari ruang kelas, aku dan teman-teman nggak bisa langsung pulang.

Kami diajak uztad (itu panggilan untuk pak guru) menyambut wakil Presiden Indonesia. Namanya pak Boediono yang datang ke kampus Undip untuk menghadiri wisuda atau apa gitu. Aku lupa.

Nah, kebetulan kan sekolahku dekat dengan kampus. Cuman jalan kaki sebentar aja udah sampai di kampus. Kadang aku juga olah raga di sekitar gedungnya. Sekolahku juga berada di jalan utama menuju kampus.

Kamis, 25 Oktober 2012

Ma, Aku terjangkiti Demam Jajan



Ini juga salah satu jajanku
Sejak aku masih kecil, mama selalu membiasakan untuk menyediakan makanan kecil di rumah. Apapun makanan bahkan sampai es krim pun di sediakan di kulkas. Aku tinggal mengambil apa yang aku inginkan.
Pengin camilan tinggal buka kulkas atau almari di dekat meja makan. Mama itu juga suka menyimpan makanan di kulkas. Tapi makanan yang masih terbungkus. Jadi nggak membaui kulkas seperti yang sering dibilang mbah.

“Jangan memasukkan sembarang makanan di kulkas. Nanti bisa bau,” begitu kata mbah. Padahal di dalam kulkas udah diberi obt anti bau oleh tante.

Atau mungkin aja itu jadi alasan mbah biar semua makanan nggak dimasukkan ke kulkas, hehe.

Ya, saking biasanya mama menyediakan kebutuhanku untuk yang satu itu. Aku bisa dikatakan nggak pernah jajan.

Aku ingat ketika sering diajak mbah pergi ke warung kelontong dekat rumah. Ketika ditawari makanan, permen, bahkan es. Kepalaku selalu menggeleng.

“Nggak. Mama udah beliin.” Atau “Nggak, di rumah udah ada.”

Kebiasaan itu sampai aku sekolah. Bahkan sampai duduk di bangku Sekolah Dasar.
Karena itu juga aku nggak mengenal uang seperti teman-teman sebayaku. Aku juga tidak biassa ke warung sendirian untuk beli jajan. Aku nggak suka pegang uang. Bahkan aku pernah memasukkan uang mamaku di tempat sampah, hihii.

Rabu, 26 September 2012

Katanya Wartawan...


Setiap kali Don bertanya pada mama dan tak bisa memberi jawaban...Don selalu sebal dan mengeluarkan jurus sindirannya yang bikin tampang mama jadi manyun dan jelek.

"Katanya wartawan..gitu aja ga tahu.."

Dan mama selalu menjawab,

"Wartawan kan juga manusia, nggak semua hal bisa tahu. Tapi ingat, wartawan akan selalu mencari tahu dan mencari jawaban apa yang ingin diketahuinya,"

Seperti biasa....mama eman suka ngeles...hihiiiiiii


Terlambat Jemput


Pulang sekolah Don pasang tampang masam dan cemberut. Bukan tanpa alasan. waktu sudah menunjukkan pukul 15.30 dan mama baru datang menjemput Don di sekolah. Itu artinya mama terlambat 30 menit dari jam pulang.

"Maaf, mama tadi ada janjian sama orang untuk wawancara," kata mama sambil menggoda Don agar tak lagi cemberut.

"Mama ini biasa deh. Kan udah tahu jam pulang, harusnya pas jemputnya. Jadi aku tidak perlu menunggu lama," jelas Don.

Iya, sore itu hanya tinggal dua anak yang menunggu di jemput orang tuanya. Don, salah satunya.

"Kalau begini lagi aku mau ngambek aja. nggak mau sekolah," ancam Don sambil naik di boncengan Mama.

Sabtu, 16 Juni 2012

Hormat pada vespa..graaaak!


si butut
Sesekali mama mengajak Don jalan-jalan berkeliling di sekitar rumah. Itu biasa dilakukan mama kalau tidak ada kerjaan atau santai di rumah.

Sekadar putar-putar aja. Biasanya kalau mama sedang berbaik hati suka mampir di tempat makan atau minimarket, hehee.

Sore itu seperti biasa, mama melewati jalur menuju terowongan pintu tol tidak jauh dari rumah. Nah, sewaktu mama dan Don asyik naik motor sambil ngobrol, tiba-tiba Don menyela sambil berteriak.

”Mama, tunggu dulu. Ayo kita hormat dulu. Buruan mumpung belum kabur,” seru Don.

”Hah..hormat apaan sih? Hormat sama siapa?,” jawab mama keheranan.

”iya, itu...ada vespa lewat di seberang. Ayo kita hormat dulu.”

Tangan Don langsung bergerak mengambil posisi seperti ketika hormat pada bendera merah putih dan memandang vespa butut yang melintas itu.

”Gleeeek”

Jumat, 08 Juni 2012

Roti tawar bikin kanker


Roti bakar isi keju ala chef  Don..hiii
Mama itu punya kebiasaan membelikan roti tawar untuk mbah.
”Buat teman minum teh,” begitu kata mama.

Nah, malam itu Mama dan Don pergi keluar. Mama pengin ambil duit di ATM untuk mentransfer uang ke toko bahan bangunan.

”Nanti beli roti tawar nggak buat mbah?” tanya Don.

”Nggak, emang kenapa ?”

Don cuman pengin ingetin mama aja sih kalau pas mau beli roti tawar itu harus hati-hati.”

Mama langsung menyerngitkan kening dan bertanya alasan Don bilang begitu. Apalagi ini baru kali pertama Don ”mewanti-wanti” mama.

”Nah lho, emang kenapa?” itu pertanyaan yang biasa Don dengar. Maksudnya, mama itu terlalu sering bilang ”kenapa” setiap kali Don ngomong atau ngasih tahu sesuatu.
(kebanyakan nanya nih mamaku,hihii)

Sabtu, 12 Mei 2012

"Mah, Belikan Gajah Dong..."

Dua bulan lalu, don mendapatkan dua kura-kura dari bude yang tinggal di Bogor. Kakak ayah ini sebenarnya punya tiga. tapi don memilih mengadopsi dua yang ukurannya lebih kecil.  "Aku pengin punya binatang peliharaan mah, boleh ya?" rengak Don waktu itu.

Akhirnya, rengekan dikabulkan mama dengan syarat nggak bakalan menyusahkan orang rumah. Don harus bisa bertanggungjawab dengan hewan peliharaannya.

"Bisa bersihin dan ngasih makan sendiri. Itu yang utama. Kalau nggak sanggup ya lupakan aja deh," ancam mama.

Don menyanggupi. Dua kura-kura diboyong ke Semarang. Belakangan ini Don memberi nama keduanya dengan panggilan Bimmy dan Bummy.

Nggak tahu juga dia punya ide nama itu dari mana. jangan-jangan dari nama adik sepupunya, Bhima...hihiii.

Kamis, 12 April 2012

Awas, Itu Rumah Kuman...

hand dryer di salah satu restoran cepat saji
Setiap diajak ke restoran cepat saji, ada satu hal yang bikin Don bersemangat selain melalap habis pesananny.
Mungkin terkesan katrok alias ndeso..ndeso. Tapi biarin ajalah. Dia pengin merasakan sensasi lain.

Yap, Don suka berkali-kali mencuci tangan. Tujuannya cuman satu. Biar bisa juga berkali-kali mengeringkan tangan dengan alat pengering tangan atau bahasa kerennya “hand dryer” yang terpasang satu set dengan tempat cuci tangan. Biasanya terpasang di tembok sisi kiri atau kanannya.

“Enak mah…Bisa langsung kering,” kata Don.

Hmm, beda dengan mama yang setiap mencuci tangan dengan air dan sabun cuci tangan, mama nggak langsung nyamber hand dryer dan berlalu begitu aja.

“Panas, nggak enak. Lagian kalau pake hand dryer tangan mama jadi berasa kering,” mama beralasan.

Nah, sekarang ini kebiasaan Don berubah total. Tepatnya sih mama nggak tahu pasti. Yang jelas setiap diajak ke restoran cepat saji , Don tak lagi “bermain” hand dryer. Don melewatkan alat pengering itu sehabis mencuci tangan.

Kebiasaan itu dihentikan. Dan setiap selesai mencuci tangan, Don selalu berkata, “Aku nggak mau pake hand dryer lagi ah, tar tanganku bisa kemasukan kuman lagi.”

“Kok bisa?” Tanya mama penasaran

Another Don

"Mama, coba dong jelasin arti namaku. Ada temen yang nanyain nih," rengek Don.

"Yaelah, kan mama udah jelasin, masak kamu lupa sih. Ya udah sana buka mbah google." jawab mama ngasal.

Mamaku tuh emang suka bilang gitu. Katanya, kalau pengin tahu banyak hal ya buka google aja. Padahal ngaku  aja kalau mama tuh sebenarnya males kasih penjelasan..hiii

"Emang namaku ada di google mah..?? Don penasaran.

Yap, di rumah emang ada jaringan internet yang biasa digunakan mama untuk bekerja. juga bisa dipakai Don kapan aja. Meski kebanyakan cuman buat buka game online. Tapi lumayan juga untuk lihat video dinosaurus di you tube (ini kesukaan Don juga kalau lagi buka internet)
"Kesukaanmu emang yang purba-purba. cari yang lain dong". Itu yang sering mama bilang..hihiiii

Oke deh, nama Don kan udah pernah kujelasin di blog ini  sebelumnya, tapi Don dan mama iseng-iseng buka-buka mbah google

Toilet Khusus untuk Nasabah

Tulisan ini mungkin saja terlihat biasa, apalagi untuk orang yang punya hobi bolak balik ke toilet. atau orang yang yang gatel kalau lihat toilet langsung kebelet..hiii
Tapi, ini luar biasa untuk Don. Nah lho???

Iya, ceritanya begini
Sore itu, Don ikut Mama pergi ke ATM untuk menyetorkan sejumlah uang. Emang sengaja datang sore dan memanfaatkan mesin pintar di depan kantor bank yang ada di kawasan Simpang Lima Semarang. Alasannya, simpel banget. Mama males antre panjang di depan teller bank. Lagian duit yang disetor juga cuman dikit. Malu aaah..hihiii

Nah, sambil nunggu antria yang kebetulan kok panjang juga ya. Don kebelet nih pengin ke toilet. Akhirnya tanya ke sekuriti yang lagi jaga.
"Toiletnya sebelah mana ya?" tanya mama
"Itu bu, di samping gedung ini." jawab si petugas keamanan itu dengan ramah sambil menunjukkan arah tempat untuk memenuhi panggilan alam..hehee

Berjalanlah Don dan mama ke arah itu. Tapi, eeeit...tunggu dulu

Senin, 17 Oktober 2011

Mana Tukang Fotonya...

Seorang anak nampak asyik dengan mainan yang baru dibelikan ibunya
"Bu..binatang yang sudah langka itu apa aja ???" tiba-tiba saja si anak bertanya pada ibunya.

"Ya... banyak," jawab ibu singkat

"Iya..apa saja, coba disebutkan"

"Harimau, Komodo, Paus dan Hiu raksasa..," ibu mulai menyebut satu persatu binatang langka yang terlintas di kepalanya

"Bagaimana rasanya punya binatang langka ya bu..aku ingin punya binatang langka. Kalau begitu aku mau membuat binatang langka dari mainan "malam" ini,"pikir si anak.

"Terus kalau udah jadi nanti difoto ya bu, biar aku bisa punya binatang langka ini. Nanti aku simpan di kamar sampai aku besar.
Nah tugas ibu sekarang mencarikan aku tukang foto. Aku ingin foto dengan binatang langka bikinanku..."cerocos si anak sambil mulai melumat-lumat "malam" warna biru dan hijau yang ada di tangannya dalam bentuk yang dia anggap binatang langka.

Sejurus kemudian, jadilah harimau dan hiu raksasa dihadapan si anak.

Sabtu, 15 Oktober 2011

Ikut Field Trip yuuuk


Sudah menjadi bagian dari agenda rutin di sekolah Don adalah field trip atau kunjungan ke luar sekolah. Nah, kali ini anak kelas 3 sampai kelas 6  diajak berkunjung ke dua tempat sekaligus. Ke pabrik jamu Nyonya Meneer dan Masjid Agung.
Di sana setiap siswa diminta melakukan observasi lapangan dan membuat laporan yang dikumpulkan tiga hari kemudian. Diketik dari notebook mama.
Cerita ini ditulis Don dengan bantuan mama. Maksudnya, mama membantu
menuliskan (capek katanya nulis banyak). Sedangkan semua cerita dari Don

Pengin tahu bagaimana laporan Don? Baca dech...dan nikmati perjalanan bersama Don


Don Manik
Kelas : 3
Sekolah : SD Islam P. Diponegoro

Pengalamanku berkunjung ke PT. Nyonya Meneer dan Masjid Agung.

Hari rabu aku berangkat sekolah diantar mama.  Aku mau pergi  berkunjung ke PT. Nyonya Meneer dan Masjid Agung  bersama teman-teman.
Kami naik bus ramai-ramai. Aku  duduk dengan  Hilmy  teman sekelasku. Menuju jalan Kaligawe lewat jalan tol.

Sampai di PT. Nyonya Meneer  anak perempuan diajak ke museum jamu duluan, diajak memakai bedak dingin di jidat dan melihat bahan-bahan untuk membuat jamu. Anak laki-laki diajak mencoba jamu yang diseduh dengan air panas. Rasanya pedas dan panas. Anak perempuan selesai, gantian dengan anak laki-laki.

Di museum ada patung perempuan sedang menumbuk bahan-bahan untuk jamu. Ada patung sedang mengolah jamu. Ada juga patung nyonya Meneer. Nama aslinya Long Yang Pia. Dia orang China yang menikah dengan orang Semarang. Dia membuat jamu untuk suaminya yang sakit, dan sembuh setelah minum jamu. Banyak yang pesan jamu sama dia. Terus dia punya usaha bikin jamu. Sekarang yang punya pabriknya orang lain.
Habis itu, orang yang bantu perusahaannya itu memberi pertanyaan kepada teman-teman. Yang bisa jawab dapat satu minyak kayu putih. Temanku bisa menjawab satu, namanya Ibnu. Terus dia menjawab lagi. Terus dapat dua minyak kayu putih deh.
Kami dikasih jamu yang strong untuk sakit kepala dan hidung. Buat mama di rumah.

Terus kami semua melanjutkan perjalanan ke Masjid Agung lewat jalan Majapahit. Perjalanan agak lama. Sampai di masjid Agung, aku dan teman-teman harus menunggu bus yang lain karena aku dan teman-teman lewat jalan pintas. Yang lainnya lewat jalan tol.

Habis datang kami diajak naik tower. Kami naik lift sampai ke lantai 19. Ada kelas 2 membawa koin 500 kuning untuk meneropong. Terus ada yang berebutan teropong. Padahal tidak membawa koin. Aku dan temanku membawa bekal dan dibagi ke pak guru. Kami makan ramai-ramai di atas. Ada 2 temanku yang melanggar peraturan  ustad padahal udah diingatin tidak boleh menyobek kertas. Mereka disuruh ganti rugi  lima ribu. Mereka tidak tahu.Terus ustad nyuruh aku ngasih tahu.

Kami turun ke lantai tiga lihat museum. Disana ada bioskopnya. Cuman sebentar. Terus melihat-lihat turun ke lantai dua. Ada kapal nelayan tapi cuman depannya saja. Belakangnya tidak ada. Ada pasir pantai yang tersisa. Lalu turun ke bawah menuju ke masjid. Sampai di masjid sepatuku ku copot, aku langsung lari ke dalam masjid. Sampai di dalam masjid,  aku lihat kakiku melepuh karena panas.

Lalu ada kelas 2 yang nangis karena kepanasan. Terus aku pakai kaos kaki turun ke bawah wudlu untuk shalat. Sampai di dalam masjid aku melihat Al-Quran raksasa di tulisnya 2 tahun 3 bulan. Terus bedugnya itu besar banget. Aku ingatnya bedugnya warnanya hijau.

Aku shalat berjamaah dengan teman-teman. Sehabis shalat aku keluar dari masjid untuk pulang. Kakiku tidak kepanasan karena aku pakai kaos kaki. Jadi aku tidak lari. Adik kelas 1 dan 2 aku melihat dia kakinya melepuh.

Kami pulang naik bus. Di bus dapat makanan katering ayam dan nasi. Kami makan bersama di dalam bus. Terus sampai sekolahan aku nunggu mama menjemput. Terus mama datang. Kami pulang ke rumah naik motor. Aku senang sekali.

Selesai.

sayangnya nggak boleh bawa kamera. Mama juga nggak boleh ikut. Jadi nggak ada fotonya..hiiiks

Selasa, 11 Oktober 2011

Si Hutan Borneo


”Ma, disuruh potong rambut,” kata Don sepulang sekolah. Kebetulan siang itu Mama nggak bisa jemput karena ada urusan di luar.

”Hmm, sapa yang suruh?” tanya mama.

"Bu guru,” jawab Don singkat.

”Nah, sekarang baru tahu rasa kan. Jadi malu sendiri. Sampai bu guru aja turun tangan buat ngurusi rambutmu yang kayak hutan Borneo gitu.”

Mama melihat tampang Don yang memelas. Terdengar gumaman tak jelas dari mulutnya. Meski udah dapat peringatan dari guru, sepertinya Don masih nggak rela kehilangan rambutnya untuk sementara. rasa sayang berlebihan dengan rambut panjang tetap membuat Don enggan mencukur rambutnya.

”Duuh, kamu lebay amat ya. Udahlah nggak usah terlalu dipikirin. Meski dipotong kan nanti bakalan tumbuh lagi. Hilangnya cuman sementara..”

Jumat, 07 Oktober 2011

Pensil untuk Hilmy


Siang itu seperti biasa, waktu menunjukkan pukul 11 siang. Dan itu artinya mama harus jemput Don di sekolah.
Ya, pukul 11 siang saatnya anak kelas satu termasuk Don keluar kelas.

Sesampai mama di sekolah, ternyata Don sudah menunggu mama di tempat biasa. Tempat bermain yang ada di samping sekolah.
Mama terlambat 15 menit. tapi nggak apa-apa, jadi Don punya waktu untuk bermain dengan teman-teman sebelum mama datang menjemput. Oh ya, Don tetap merasa nyaman menunggu dan bermain karena penjaga sekolah selalu setia menunggu semua murid. Sampai benar-benar ”bersih”. Maksudnya sampai anak-anak pulang semua, pak satpam penjaga sekolah baru bisa pulang.

Siang itu sekolah sudah tidak begitu ramai ketika mama datang. Tinggal beberapa anak saja yang masih menunggu jemputan.
Melihat motor mama, pak satpam langsung memanggil Don yang tengah asyik bermain ayunan.

”Don..mama udah dateng tuh,” panggil pak satpam.

Don langsung menoleh parkir motor yang ada di depan masjid dekat sekolah. Begitu melihat mama, Don langsung beringsut menuju bu Eny dan memberi salam. Ia adalah wali kelas satu. Seperti kebiasaan yang ada di sekolah Don, setiap datang atau pulang sekolah membari salam kepada bu guru.

Sambil membonceng motor di belakang mama, Don mulai bercerita. Ini menjadi kebiasaan Don setiap berada di atas jok motor. Perjalanan dari sekolah ke rumah sebenarnya hanya ditempuh dalam waktu lima menit.

Ya, lima menit yang selalu penuh dengan cerita. Lima menit yang berarti.

”Ma, aku tadi minjemin pensilku ke Hilmy karena dia ga bawa pensil,” kata Don.

”Iya, ” jawab mama singkat.

”Nggak apa-apa aku pinjemin biar dia bisa nulis di sekolah. Coba bayangkan kalau dia nggak bawa pensil. Dia nggak bisa nulis dan ngikutin pelajaran di sekolah. Kan kasihan.”

”Baguslah, kamu sendiri masih punya pensil kan,”

”Masih. Terus pensil yang aku pinjamkan itu juga aku kasih aja di Hilmy.”

”Pensil yang mana?” tanya mama.
”Pensil yang berwana hitam itu lho....”

Panjang atau yang pendek ?”

”Ya..yang sedenganlah. nggak panjang dan nggak pendek. Nggak apa-apa ya ..kan biar Hilmy punya pansil. Lagian pensilku masih banyak. Masih ada 15 buah lho Ma.”

”Masak sih, berarti pansilmu masih banyak dong.”

”Iyalah. Kemarin pensilku ada 18.terus aku kasihin ke teman-temanku. Aku kasih Fadil satu, terus aku kasih Nino satu. Faden juga dan aku kasih Hilmy satu
biar mereka bisa nulis semua.”

”Oke dech. Mama suka itu.”

Don dan Mama sampai di rumah.

-Indahnya berbagi.......

Kamis, 06 Oktober 2011

Kenapa Tanahnya Melarikan Diri?


"Lihat itu Bu...tanahnya melarikan diri..!!!" seru si anak kepada ibunya sambil menunjuk truk berwarna hijau penuh muatan tanah merah yang melintas di depan motor mereka.

"Di mana sayang ?" tanya si ibu sambil mengendarai motornya.

"Itu lho Bu.., tanah di atas truk itu melarikan diri dari dalam truk.  Kasihan mereka melarikan diri sampai jatuh dan tercecer di jalanan beraspal ini. Bahkan sampai di injak-injak oleh motor kita dan kendaraan yang lain yang lewat di belakang truk itu.”

”Tanah-tanah itu mau di bawa kemana ya, dan kenapa mereka sampai melarikan diri seperti itu. Mereka pasti tidak mau diajak pergi tapi dipaksa. bener khan Bu..??!!" tanya si anak lagi dengan nada tinggi.

"Mungkin saja," jawab ibu singkat.

"Ibu tidak tahu pasti apakah tanah itu akan melarikan diri karena akan disakiti. tapi disakiti oleh siapa ya..."

Rabu, 05 Oktober 2011

Punya Jenggot? Nggak aah...

pangkas rambut madura
Satu hal yang paling dan sangat tidak disukai Don adalah potong rambut. Don lebih suka punya rambut yang gondrong. Rambut yang bisa disisir kebelakang. Bisa diberi air atau gel, jadi bisa ditarik keatas. Rambut godek yang panjang hingga dibawah telingga dan bisa dipilin dengan kedua tangannya. Mungkin Don terobsesi dengan manga atau kartun jepang yang sering di tontonnya ya..hiiii.

Rambut Don memang lebat dan tekstur tebal seperti rambut orang dewasa. Mungkin itu juga kebanggan tersendiri. Apalagi kalau lihat rambut teman-teman sekolahnya, tidak ada yang rambutnya seperti milik Don.

Ya..sejak lahir, Don memang dikaruniai rambut yang lebat serta  tumbuh dengan cepat. Dan ketika rambutnya sudah mulai menutupi telinga atau jidat, mama pun harus rela berbaik hati dan membujuknya agar segera  potong rambut. Jadi rambut gondrongnya itu tidak akan menambah ukuran kepalanya yang besar.

Selasa, 04 Oktober 2011

Heiii… namaku Don


Tepatnya panggil saja Don, itu akan lebih mudah.
Meski pada awalnya orang di sekitarku, terutama orang-orang tua tetangga sekitar rumahku merasa aneh dengan namaku.
Mereka kadang memanggilku Adon, Odon atau Doni, padahal namaku bukan itu.
Kadang aku merasa kesal juga, tapi bagaimana lagi mamaku dan ayahku memberiku nama itu.
Pernah aku ngotot minta namaku berubah menjadi Dimas. Tapi kata mama itu tidak cocok buatku...heee
Tapi sebenarnya nama lengkapku Don Manik Putra Yudani
Kata mama, namaku diperoleh bukan dengan perjuangan panjang mencari nama-nama di buku khusus nama anak-anak atau dari internet
Dari cerita mamaku, nama Don itu artinya laki-laki seperti di negara Amerika Latin sana nama Don itu sebutan untuk orang laki-laki  atau gelar bangsawan laki-laki, ya seperti Don carlos atau Don Juan.
Begitu kata mama.

Kalau Manik bisa diartikan sesuatu yang berkilauan, bisa juga itu perhiasan. Eeiit tapi tunggu dulu sebenarnya itu pemberian ayah. Kata mama dulu ayah selalu bilang jika punya anak laki-laki atau perempuan akan diberi nama Manik
Apa ya artinya, aku dan mama malah tidak pernah menanyakan pada ayah alasan kenapa ayah memberiku nama Manik. Nanti akan aku tanyakan dech.

Sedangkan Putra Yudani itu singkatan dari nama kedua orang tuaku. Begitu katanya.

Aku adalah salah satu anak yang beruntung yang terlahir di dunia ini. Meski sedikit berbeda kondisinya dengan teman-teman sebayaku di kampung dan di sekolah, tapi aku tetap menganggap aku adalah anak yang beruntung.
Aku mendapat limpahan kasih sayang dari orang di sekitarku.Seperti mama,embah, tante dan om-om yang indekost di rumah embahku yang besar.

Saat ini umurku baru 7 tahun dan aku duduk di kelas 1 SD Islam yang berada tak jauh dari rumah.
Ini adalah cacatan keseharianku bersama orang-orang di dekatku yang sayang denganku. Bersama mereka aku belajar banyak hal.
Pastinya teman-teman juga pengalaman seperti pengalamanku
Jadi betapa senangnya jika kita saling berbagi pengalaman. Dan keseharianku ini aku ceritakan bersama mama. Jujur saja, Aku sangat bergantung dengan mama karena aku sangat sayang dengan mama.

Jadi keseharianku adalah keseharian kalian, keseharian anak-anak adalah anugerah .
Ada ceria, suka, sedih dan semua perasaan.
Semua di tulis dan diceritakan lewat mamaku,  karena meski aku sudah pandai membaca dan menulis, tetap saja aku seringkali merasa malas. Karena melihat tulisan yang banyak aku sudah capek..hiii
Padahal Kata mama, aku tidak boleh malas membaca dan menulis, karena dengan membaca kata mama aku akan tahu banyak hal
Jadi mulai sekarang kita akan selalu berbagi pengalaman.........

Begitu selalu pesan mama dan om Dhita

Sebagai hadiah ulang tahun ke 7, mama sengaja memberiku blog. Sebenarnya aku minta mama membuatkan facebook. Kan lagi ngetrend kata mas Lucky sepupuku yang tinggal di Jakarta. Dia punya nama facebook banyak katanya. Makanya, aku juga pengen punya facebook seperti Mas, Mama dan semua orang.

Tapi Kata mama, punya facebook harus punya teman banyak. Jadi untuk sementara mama memberikan blog-nya khusus untuk aku.

Blog singkatan dari "web log" adalah bentuk aplikasi web yang menyerupai tulisan-tulisan pada sebuah halaman web umum. Situs web seperti ini biasanya dapat diakses oleh semua pengguna internet. Jadi nanti aku dan keseharianku bisa dilihat semua orang lewat internet. Itu lebih asyik kata mama. 

Jadi mulai hari ini, blog mama sudah menjadi milikku...
Cihuiiii...asyiknya punya blog
Moga-moga aku tidak keasyikan main game online dan PS ya..jadi aku bisa  rajin bercerita....

Oh ya, sudah lama aku tidak tinggal bersama ayahku karena kata mama, ayah dan mama sudah berpisah sejak aku berumur 2 tahun. Ayah tinggal di Bogor bersama orang tuanya, sedangkan aku tinggal di Semarang, di kampung halaman mamaku.

Di rumah ini aku tinggal dengan embah putri, aku tidak tahu pasti seperti apa embah kakung, aku hanya bisa melihat embah lewat foto karena kata mama, embah kakung sudah meninggal sejak aku berumur 19 bulan.

Selain itu juga ada tante Sakti dan suaminya Om Danang. Dan ada 10 om-om mahasiswa kampus Undip yang nge-kos di rumah embah. Namanya om Yoga, Danang, Eko, Singgih, Indra, Niko dan om Aming. Yang lain sengaja tidak aku sebutkan karena aku memang sangat jarang bermain dengan mereka.

Dan teman mama  yang suka datang ke rumah dan main dengan aku. Namanya om Dhita. Dia juga suka sekali membelikan aku buku-buku cerita. Om Dhita sangat suka sekali membeli buku. Karena buku itu jendela ilmu katanya.

Apa itu artinya Om Dhita pengen aku punya ilmu yang banyak ya...

Ini catatan sejak dua tahun lalu
Hm..lama juga ya ketika mama pertamakali membuatkan aku sebuah blog

Tapi karena terlalu sibuk (itu alasan mama), blogku ini jadi nggak pernah dikasih makan..hiiks

Jadi kamu bisa lihat sendiri kan?
Blogku jadi kuyuuuss begini

Nah, mulai sekarang mama ingin mengisi lagi dengan cerita-ceritaku. Kata mama biar aku selalu mengingat masa kecilku dan ketika aku dewasa nanti aku juga bisa berbagi dengan anak cucuku

Aduh, kok ngomongin anak cucu sih. Aku kan masih kecil. Ya udah deg. Ayo kita bersenang-senang aja dan nikmati ceritaku.

Don



Panggil aku Don


Anak bagaimanapun keberadaannya dan kondisinya tetaplah sebuah anugerah terindah yang diberikan sang pencipta

Sebagaimana Don, sosok bocah yang bertubuh besar dari ukuran teman-teman sebayanya.

Catatan ini hampir semua adalah cerita keseharian Don. dan Saya sebagai orang tuanya hanya sebagai perantara pengantar cerita, pengalaman Don untuk teman-temannya, untuk orangtua dimanapun, dan untuk semuanya.

Salam

Mama Don